Pengantar
Sekolah yang kami kunjungi adalah Yayasan Tri Dharma Bhakti Sei Pinyuh, Sei Duri, Pasar Gunung, Batu Payung, Pemangkat, Kopisan, Kaliasin Dalam, Kulor, Panti Asuhan Gloria. Selain sekolah Kursus bahasa Mandarin, kami juga mengunjungi SMPS PGRI Tebas dan sempat mampir di sekolah Perintis Tebas. Pada hari terakhir kami menghadiri acara puncak yakni Perlombaan Pidato dalam bahasa Mandarin yang diikuti 42 peserta dari hampir semua sekolah kursus bahasa Mandarin yang kami kunjungi.
Perkembangan dan tantangan
Perkembangan yang menggembirakan adalah semakin banyak orang tua anak-anak yang mendorong anak-anak mereka mengikuti kursus bahasa Mandarin. Hal ini nampak dari bertambahnya jumlah murid yang mengikuti kursus ini. Hal ini menjadi indikasi bahwa masyarakat makin menyadari bahwa bahasa Mandarin merupakan bahasa Internasional yang sangat penting dewasa ini.
Bisa jadi masyarakat menyaksikan perkembangan pesat bisnis negara Tiongkok yang merambah seantero dunia. Ditambah lagi masuknya investasi Tiongkok ke Indonesia yang membuka lapangan kerja yang menjanjikan, seperti pertambangan nikel di Sulawesi yang menyerap banyak tenaga kerja yang menguasai bahasa Mandarin.
Hampir semua lembaga kursus yang kami kunjungi mengungkapkan keprihatinan yang cukup serius yakni kekurangan tenaga pengajar. Keprihatinan ini diperberat dengan tawaran gaji yang menggiurkan dari perusahaan di Sulawesi. Tidak hanya tamatan kursus yang pergi ke sana, para pengajar juga banyak yang hengkang mencari masa depan

yang lebih menjanjikan di Sulawesi. Pepatah mengatakan, “bukan hanya anak-anak ayam yang tertarik ke sana, tetapi sekalian induk-induk ayam juga”.
Memang bisa dimengerti alasan mereka meninggalkan profesi guru untuk beralih menjadi penerjemah di Sulawesi. Kejomplangan gaji menjadi alasan utama.
Anak-anak muda menekuni bahasa mandarin dengan citacita untuk memperoleh pekerjaan bagi masa depan mereka. Hampir semua lembaga kursus tidak berdaya menahan guru-gurunya pergi ke sana.
Bagaimana jalan keluar menghadapi tantangan ini.
Pertama, kepala sekolah membatasi kehadiran HRD Sulawesi memasuki kelas-kelas untuk melakukan promosi untuk bekerja di sana. Kedatangan mereka cukup diterima kepala



sekolah dengan semua infonya.
Memang Lembaga tak bisa membendung keinginan anak-anak untuk memperoleh perkerjaan, namun sebagai lembaga perlu memberikan kepada anak-anak info yang objektif mengenai suka duka bekerja di rantauan. Hal-hal apa yang perlu mereka persiapkan dan mendorong anak – anak menamatkan sekolahnya terlebih dahulu dan mempersiapkan kematangan mental untuk bekerja.
Kedua, para pimpinan kursus perlu terus menerus memperdalam motivasi dan kepedulian hati para guru pada masa depan generasi muda yang diasuhnya.

Semangat seorang pendidik/ guru tidak hanya tergantung pada besarnya gaji, meski gaji penting sekali, tapi ada sukacita batin melihat anak-anak yang dididik bertumbuh dan pada gilirannya dapat memperoleh pekerjaan yang bisa membantu orangtua mereka. Perlu ada pengorbanan guru yang diimbangi dengan penghiburan dan kepuasan batin. Ada pengakuan dan hormat masyarakat pada guru. Ada kebanggaan karena bisa melihat hidupnya berarti bagi masyarakat. Betapa mulia panggilan seorang pendidik. Semua ini tak bisa hanya dinilai dengan uang.
Kepala sekolah dengan kepemimpinan yang partisipatif, menghargai tim gurunya, menjalin relasi persaudaraan yang hangat, kerja sama yang saling mendukung, menciptakan kegembiraan sebagai tim. Misalnya sesekali mengambil liburan bersama, makan bersama yang sederhana, akan mengikat


hati pengajar untuk bersama-sama bekerja mendidik generasi muda. Hati terarah bagi perkembangan masyarakat tak ternilai harganya.
Bagi lembaga-lembaga yang ditinggal gurunya, berupaya mengkaderisasi generasi baru untuk menjadi pengajar. Mereka yang telah tamat disiapkan untuk mengajar kelas bawah. Kalau rotasi regenerasi ini terus dijalankan, maka kesinambungan lembaga bisa terjaga untuk tetap berlangsung.
Meskipun semangat pengabdian seorang guru tak

ternilai hanya dengan gaji, namun perhatian pada besarnya gaji pantas mendapat perhatian. Bagaimana mengupayakan gaji seorang guru minimal mendekati UMR setempat.
Kunjungan lain
Di samping lembaga kursus bahasa Mandarin, kali ini kami mengunjungi SMPS PGRI Tebas. Sekolah ini membebaskan uang sekolah bagi semua anak-anak yang bersekolah di sana dengan alasan para siswa berasal dari keluarga miskin. Cost sekolah dijalankan hanya dengan bantuan BOS dari pemerintah. Honor guru sangat minim, gedung sekolah sesungguhnya sangat memprihatinkan.
Mereka sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak, terutama tokoh-tokoh masyarakat setempat. Kiranya baiklah sesekali tokoh masyarakat setempat mampir ke sekolah ini, karena memang pantas untuk didukung.
Lomba Pidato
Setelah pandemi mulai mereda, lomba pidato ke 16 diselenggarakan kembali . Kali ini SMP Barito menjadi penyelenggaranya. Nampak kemajuan pesat dari 42 anak yang mengikuti lomba ini. Meskipun setiap lomba pasti akan keluar pemenangnya, namun semua peserta lomba yang tampil, menunjukkan kemampuan mereka masing-masing.
Sesungguhnya semua peserta adalah pemenang, karena telah mempersiapkan diri dengan baik, tampil dengan percaya diri serta sportif menerima keputusan Juri. Selamat untuk semua peserta. Semoga tahun depan para peserta akan tampil lebih bagus lagi.
(Dra. Affra Siowardjaja)



